Archive for December, 2005

Petruk Know and Ratu Understand

Wednesday, December 28th, 2005


Pernah dengar cerita petruk jadi ratu ??..
Kalo pernah, berarti tahu dong gimana hasilnya negara saat petruk memimpin ???
Lha itu sekarang terjadi di Indonesia…saat petruk-petruk bertebaran di bumi Indonesia tercinta ini menjadi ratu-ratu di kadipaten-kadipaten maupun songgosuloyo…..ihik…ihik…..(songgosuloyo=BUMN..:p)

tapi sudahlah..
memang itu sudah terjadi mau diapakan lagi…
berarti saat ini bagi yang merasa bukan petruk wajib bersiap sedia menggantikan para petruk itu untuk suatu saat menjadi ratu….yach..minimal 2 generasi lagilah….

Tapi yang ingin diungkapkan disini bukanlah soal negaranya…
tapi petruknya.
sang waton suloyo sejati..
tau waton suloyo khan ??seenak udel dia sendiri…
perintah sana-perintah sini…petruk memang serba tahu.
Makanya dia selalu berani kasih perintah saat jadi ratu.

Sayangnya otak petruk yang serba tahu itu buka syarat jadi Ratu….
Ratu itu selain harus Know, juga harus Understand. Tidak cukup hanya Know saja…

Ibaratnya begini…
Tangan Petruk kena tele’ ayam..Dia tahu itu bau…tapi tetep aja dicium untuk memastikan bahwa itu bau…:)…hwakaradahhhhh……

Dasar Petruk….
Orang pintar kemaken yo ngono kuwi……
waton suloyo sa dunyo…sa jagat…..
*****
Untungnya Dunia terselamatkan saat petruk turun tahta…
sehingga tidak terjadi kehancuran lebih besar lagi…
Tetapi petruk turun tahta pun juga dengan khimat…
Petruk dikembalikan ke posisinya semula sebagai penghibur…
karena kadang penghibur adalah orang-orang yang Know tetapi tidak harus Understand…:))

Salam Tabik

Jarod
CakrawalaDiSisiku

Ketika GusMus “bertanya” pada Hadlratussyeikh

Tuesday, December 27th, 2005

Ketika Gus Dur menulis wawancara imajiner tentang Dr. Nurcholish Madjid
di majalah Editor, dia memulai dengan ungkapan guyon cerdasnya: “Kalau
dulu Christianto Wibisono mewawancarai Bung Karno secara imajiner,
tidak berarti hak melakukan wawancara jenis itu menjadi monopolinya.

Seandainya
ia bisa menunjukkan hak paten tertulis sekalipun, baik dari lembaga
domestik ataupun internasional, saya tetap saja dapat melakukan
wawancara imajiner tentang Dr. Nurcholish Madjid. Sebabnya? Karena
Christianto menjadikan tokoh yang diwawancarai itu sumber berita.
Sedang saya justru mencari sumber itu di luar si tokoh.”Ungkapan yang
sama bisa saya kemukakan sekarang ini untuk mengawali tulisan latah
saya ini.

Seandainya Christianto maupun Gus Dur bisa menunjukkan hak paten
tertulis sekalipun, baik dari lembaga domestik ataupun internasional,
saya tetap saja dapat melakukan wawancara imajiner dengan
Hadlratussyeikh. Sebabnya? Karena Christianto menjadikan tokoh yang
diwawancarai itu sumber berita dan Gus Dur mencari sumber itu di luar
si tokoh. Sedang saya hanya sekedar ingin “berkangen-kangenan” secara
imajiner dengan tokoh saya. Ungkapan saya berkangen-kangenan mungkin
kurang tepat, meskipun sekedar imajiner; karenanya saya beri tanda
kutip. Soalnya yang kangen hanya saya dan saya tidak menangi tokoh yang
saya kangeni itu. Dari apa yang saya dengar tentang Hadlratussyeikh dan
rekaman-rekaman buah pikiran beliau yang berhasil saya kumpulkan sampai
saat ini, saya memperoleh gambaran yang demikian jelas mengenai Bapak
NU ini; sehingga saya merasa seolah-olah saya menangi beliau.

Dan ketika saya, baru-baru ini, dihadiahi Kiai Muchit Muzadi copi kitab
susunan Sayyid Muhammad Asad Syihab (cetakan Bairut) berjudul
“Al’allaamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadli’u Labinati Istiqlaali
Indonesia” (Mahakiai Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama
Kemerdekaan Indonesia) dan dua kopi khotbah Hadlratussyeikh, kangen
saya pun menjadi-jadi. Keinginan untuk melakukan wawancara imajiner
dengan beliau pun tak bisa saya empet.

Tiba-tiba saja saya sudah berada dalam majlis yang luar biasa itu.
Suatu halaqah raksasa yang menebarkan wibawa bukan main mendebarkan.
Kalau saja tidak karena senyum-senyum lembut yang memancar dari
wajah-wajah jernih sekalian yang hadir, niscaya tak akan tahan saya
duduk di majlis ini.

Mereka yang duduk berhalaqah dengan anggun di sekeliling saya itu
tampak bagaikan sekelompok gunung yang memberikan rasa teduh dan damai.
Sehingga rasa ngeri dan gelisah saya berkurang karenanya.

Begitu banyak wajah –ratusan atau bahkan ribuan- memancarkan cahaya,
menyinari majlis. Ada yang sudah saya kenal secara langsung atau
melalui foto dan cerita-cerita, ada yang sebelumnya hanya saya kenal
namanya, dan masih banyak lagi yang namanya pun tak saya ketahui. Itu
tentu Kiai Abdul Wahab Hasbullah! Wajahnya yang kecil masih tetap
berseri-seri menyembunyikan kekuatan yang tak terhingga.

Duduk di sampingnya, Kiai Bishri Syansuri, Kiai Raden Asnawi Kudus,
Kiai Nawawi Pasuruan, Kiai Ridwan Semarang, Kiai Maksum Lasem, Kiai
Nahrowi Malang, Kiai Ndoro Munthah Bangkalan, Kiai Abdul Hamid Faqih
Gresik, Kiai Abdul Halim Cirebon, Kiai Ridwan Abdullah, Kiai Mas Alwi,
dan Kiai Abdullah Ubaid dari Surabaya. Yang pakai torbus tinggi itu
tentu Syeikh Ahmad Ghanaim Al-Misri dan yang di sampingnya itu Syeikh
Abdul ‘Alim Ash-Shiddiqi. O, itu Kiai Saleh Darat, Kiai Subeki Parakan,
Kiai Abbas Buntet, Kiai Ma’ruf Kediri, Kiai Baidlowi Lasem, Kiai Dalhar
Magelang, Kiai Amir Pekalongan, Kiai Mandur Temanggung.

Yang asyik berbisik-bisik itu pastilah Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kiai
Machfudz Shiddiq, Kiai Dahlan dan Kiai Ilyas. Saya melihat juga Kiai
Sulaiman Kurdi Kalimantan, Sayyid Abdullah Gathmyr Palembang, Sayyid
Ahmad Al-Habsyi Bogor, Kiai Djunaidi dan Kiai Marzuki Jakarta, Kiai
Raden Adnan dan Kiai Masyhud Sala, Kiai Mustain Tuban, Kiai Hambali dan
Kiai Abdul Jalil Kudus, Kiai Yasin Banten, Kiai Manab kediri, Kiai
Munawir Jogja, Kiai Dimyati Termas, Kiai Cholil Lasem, Kiai Cholil
Rembang, Kiai Saleh Tayu, Kiai Machfud Sedan, Kiai Zuhdi Pekalongan,
Kiai Maksum Seblak, Kiai Abubakar Palembang, Kiai Dimyati Pemalang,
Kiai Fakihuddin Sekarputih, Kiai Abdul Latief Cibeber, Haji Hasan Gipo,
Haji Raden Mochtar Banyumas, Kiai Said dan Kiai Anwar Surabaya, Kiai
Muhammadun Kajen, Kiai Muhammadun Pondohan, Kiai Siradj Payaman, Kiai
Chudlari Tegalrejo, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Badruddin
Honggowongso Salatiga, Kiai Machrus Ali Lirboyo, Kiai, Kiai …

Dan di tengah-tengah lautan Kiai dan tokoh NU itu Hadlratussyeikh
bersila dengan agung, dengan wajah sareh yang senantiasa tersenyum.
Namun, betapa pun jernih wajah-wajah mereka, saya masih melihat
sebersit keprihatinan yang getir. Karenanya pertanyaan pertama yang
saya ajukan –setelah berhasil mengatasi rasa rendah diri yang luar
biasa- adalah: Hadlratussyeikh, saya lihat Hadlratussyeikh dan sekalian
masyayeikh yang ada di sini begitu murung. Bahkan di kedua mata
Hadlratussyeikh yang teduh, saya melihat airmata yang menggenang.
Apakah dalam keadaan yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu
yang membuat Hadlratussyeikh dan sekalian masyayeikh berprihatin?
Apakah gerangan yang diprihatinkan?”

Hampir serempak, Hadlratussyeikh dan sekalian masyayeikh tersenyum.
Senyum yang sulit saya ketahui maknanya. Tampak Kiai Abdul Wahab
Hasbullah sudah akan menjawab pertanyaan saya, tapi buru-buru
Hadlratussyeikh memberi isyarat dengan lembut. Ditatapnya saya dengan
senyum yang masih tersungging, seolah-olah beliau hendak membantu
mengikis kegelisahan saya akibat wibawa yang mengepung dari segala
jurusan. Baru kemudian beliau berkata dengan suara lunak namun jelas:
“Cucuku, kau benar. Kami semua di sini, Alhamdulillah hidup dalam
keadaan damai dan bahagia. Seperti yang kau lihat, kami tak kurang
suatu apa. Kalaupun ada yang memprihatinkan kami, itu justru keadaan
kalian. Kami selalu mengikuti terus apa yang kamu lakukan dengan dan
dalam jam’iyah yang dulu kami dirikan. Kami sebenarnya berharap,
setelah kami, jam’iyah ini akan semakin kompak dan kokoh. Semakin
berkembang. Semakin bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Semakin
mendekati cita-citanya. Untuk itu kami telah meninggali bekal yang
cukup. Ilmu yang lumayan, garis yang jelas dan tuntunan yang gamblang.”

“Jam’iyah ini dulu kami dirikan untuk mempersatukan ulama Ahlussunnah
Wal Jama’ah dan para pengikutnya; tidak saja dalam rangka memelihara,
melestarikan, mengembangkan, dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah
wal Jama’ah, tapi juga bagi khidmah kepada bangsa, negara dan umat
manusia.”

“Sebenarnya kami sudah bersyukur bahwa khitthah kami telah berhasil
dirumuskan secara jelas dan rinci; sehingga generasi yang datang
belakangan tidak kehilangan jejak para pendahulunya. Sehingga
langkah-langkah perjuangan semakin mantap. Tapi kenapa rumusan itu
tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk diamalkan? Kenapa
kemudian malah banyak warga Jam’iyah yang kaget, bahkan seperti lepas
kendali? Satu dengan yang lain saling bertengkar dan saling cerca.
Tidak cukup sekedar berbeda pendapat (ikhtilaaf), tapi sudah ada yang
saling membenci (tabaaghudl), saling mendengki (tahaasud), saling
ungkur-ungkuran (tadaabur), bahkan saling memutuskan hubungan
(taqaathu’). Padahal mereka, satu dengan yang lain, bersaudara.
Sebangsa. Setanahair. Seagama. Seahlissunnahwaljama’ah. Sejam’iyah.”

Laa haula walaa quwwata illa billah…” gumam semua yang hadir
serempak, membuat tunduk saya semakin dalam. Dan saya merasakan
berpasang-pasang mata menghunjam ke diri saya bagai pisau-pisau yang
panas. Sementara Hadlratussyeikh melanjutkan masih dalam nada yang
sareh, penuh kebapakan: Yang pada bertikai itu; sebenarnya
masing-masing sedang membela kemuliaan apa? Mempertahankan prinsip
Islami apa? Sehingga begitu ringan mereka mengorbankan persaudaraan
yang agung?”

“Sejak awal saya sudah memperingatkan, baik dalam mukaddimah Al-Qaanun
Al-Asasi maupun di banyak kesempatan yang lain, akan bahayanya
perpecahan dan pentingnya menjaga persatuan. Dengan perpecahan tak ada
sesuatu yang bisa dilakukan dengan baik. Sebaliknya dengan persatuan,
tantangan yang bagaimana pun beratnya, Insya Allah, akan dapat
diatasi.”

“Perbedaan pendapat mungkin dapat meluaskan wawasan, tapi tabaaghuudl, tahaasud, tadaabur dan taqaathu’ –apapun alasannya- hanya membuahkan kerugian yang besar dan dilarang oleh agama kita.” “Kalau di dalam organisasi, tabaaghudl, tahaasud, tadaabur dan taqaathu’ itu merupakan malapetaka; maka apa pula namanya jika itu terjadi dalam tubuh organisasi ulama dan para pengikutnya?”

Hadlratussyeikh menarik napas panjang, diikuti secara serentak oleh
ribuan gunung kiai. Suatu tarikan napas yang disusul gemuruh dzikir
dalam nada keluhan:Laa haula walaa quwwata illa billah…

Saya sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kepada
Hadlratussyeikh bahwa warga jam’iyah baik-baik saja –kalaupun ada
sedikit ketegangan itu wajar, kini sudah membaik- tak ada yang perlu
diprihatinkan, ketika tiba-tiba beliau berkata:

“Kau tidak perlu menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Kami tahu
semua. Mungkin keadaan yang sebenarnya tidak separah yang tampak oleh
kami, namun yang tampak itu saja sudah cukup membuat kami prihatin.
Kami ingin khidmah dan yang dilakukan jam’iyah ini sebanding dengan
kebesarannya,”

“Lalu apa nasehat Hadlratussyeikh?” Pertanyaan ini meluncur begitu saja
tanpa saya sadari. “Nasehatku; lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah
lagi lebih cermat Mukaddimah Al-Qaanuun Al Asasi dan Khitthah Jam’iyah.
Fahami dan hayati maknanya, lalu amalkan! Dan waspadalah terhadap
provokasi kepentingan sesaat ! Itu saja!”

Mendengar nasehat singkat itu, tanpa saya sadari, saya melayangkan
pandangan ke wajah-wajah jernih berwibawa di sekeliling saya. Semuanya
mengangguk lembut seolah-olah meyakinkan saya bahwa nasehat
Hadlratussyeikh itu tidaklah sesederhana yang saya duga.

“Dan belajarlah berbeda pendapat!” seru sebuah suara yang ternyata
suara Kiai Abdul Wahid Hasyim. “Berbeda pendapat dengan saudara adalah
wajar. Yang tidak wajar dan sangat kekanak-kanakan adalah jika
perbedaan pendapat menyebabkan permusuhan di antara sesama saudara.”
Sekali lagi semuanya mengangguk-angguk lembut.

Saya tidak bisa dan tidak ingin lagi meneruskan wawancara. Saya hanya
menunggu. Ingin lebih banyak lagi mendengar nasehat. Tapi yang saya
dengar kemudian adalah ayat Al-Quran yang dibaca dengan khusyuk oleh
–masya Allah!- Kiai Abdul Wahab Hasbullah: “Washbir
nafsaka ma’alladziena yad’uuna Rabbahum bilghadaati wal ‘asyiyyi
yurieduuna wajhaHu walaa ta’du ‘ainaaka ‘anhum turiedu
zienatal-hayaatid-dunya walaa tuthi’ man aghfalNaa qalbahu ‘an
dzikriNaa wattaba’a hawaahu wakaana amruhu furuthaa.”
(“Dan
bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi
dan petang hari mengharapkan keridhaanNya dan jangan palingkan kedua
matamu dari mereka karena mengharapkan gemerlap kehidupan dunia ini dan
jangan ikuti orang yang hatinya telah Kamilailakan dari mengingat Kami
dan menuruti hawa nafsunya serta adalah keadaannya melampaui batas.”)

Dan dengan berakhirnya bacaan ayat 28 Al-Kahfi itu, saya tak mendengar
apa-apa lagi kecuali dzikir dan dzikir yang gemuruhnya serasa hendak
mengoyak langit.

Ketika PKB disorot……

Monday, December 26th, 2005

MEMBELA YANG BENAR
27 Desember 2005 00:24:43

Oleh: A. Mustofa Bisri

Petinggi-petinggi berbagai partai besar seperti Golkar dan PDIP bukan
saja sudah mulai melakukan langkah-langkah koordinasi, tapi bahkan
sudah saling unjuk gigi. Siap bertarung dan memenangi pemilu 2009.
Demikian pula PKS, PAN, Partai Demokrat, dan bahkan PPP sudah pula pada
berbenah menyongsong pemilu yang masih –atau tinggal— 4 tahun lagi.

Yang kelihatan paling pede –atau cuek saja– menghadapi pemilu
yang akan datang adalah petinggi-petinggi PKB. Mungkin ingin konsekwen
dengan motto partai mereka “Membela yang benar”, maka sampai entah
kapan mereka masih terus sibuk dan asyik berebut kebenaran di antara
mereka. Bahkan kali ini agak keterlaluan. Seolah-olah mereka –para
tokoh pemimpin partai berlambang mirip NU ini—terlepas dari masalah
negeri mereka dan sekaligus umat mereka sendiri. Kali ini tidak lagi
ikhtilaaful a-immah rahmah, tapi sudah niqmah.

Para tokoh pemimpin itu dengan semangat juang mirip mereka yang
membela Islam, melakukan manuver-manuver dan trik-trik terhadap sesama
mereka sendiri. Masing-masing seperti hendak pamer kepada khalayak
bangsa bagaimana semestinya membela prinsip kebenaran sendiri. Membela
kebenaran adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena
masing-masinglah yang benar, maka masing-masing mesti membela dirinya
hingga titik darah penghabisan. Bila warga bingung, itu adalah
disebabkan kurang memahami prinsip ini. Jika pun nantinya warga pada
berlari meninggalkan partai, itu adalah resiko perjuangan dalam rangka
“membela yang benar”.

Agaknya bagi masing-masing mereka –para tokoh pemimpin partai yang
kini berseberangan– urusan warga dan umat adalah masalah kecil. Warga
dan umat pusing sedikit apalah artinya dibanding perjuangan luhur dan
suci membela kebenaran sendiri. Nanti setelah “kemenangan” diraih,
warga dan umat yang taat-taat itu pun akan segera mengerti makna
‘membela yang benar” itu. Setelah pusing hilang, warga dan umat pun
akan segera kembali ke shaf di belakang mereka, ma’muuman liLlahi
ta’alaa.

Mereka –para tokoh pemimpin partai yang bertikai itu—lupa bahwa
kekuatan partai mereka ada pada mereka. Bukan pada setengah mereka!
Dengan setengah mereka, berarti mereka hanya punya setengah partai.
Melihat semangat –atau bahasa halusnya: ngotot—mereka membela kebenaran
diri masing-masing, rupanya masing-masing mereka memang sudah bertekad
akan meneruskan ‘perjuangan’ mereka apa pun resikonya. Agaknya bagi
masing-masing mereka, ini bukan sekedar masalah siasah, bukan sekedar
pilihan antara yang baik dan yang lebih baik; tapi sudah akidah,
pilihan antara yang haq dan yang bathil. Lebih baik setengah tapi
“benar” daripada satu tapi “setengah benar. Mungkin demikianlah pikir
mereka.

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimanakah sebenarnya mereka –para tokoh
pemimpin partai yang umumnya kiai itu— memandang warga dan umat
pendukung partai mereka? Apakah seperti pandangan umum kebanyakan
pemimpin partai lain: sekedar obyek untuk ditarik kesana-kemari
bilamana perlu? Ataukah seperti pengakuan yang sering mereka lontarkan:
warga dan umat adalah pemilik partai sejati yang harus mereka ayomi dan
layani?

Dalam kondisi pertikaian yang sudah memuncak antara dua gajah,
pelanduk terancam mati di tengah. Nah, sebagai orang yang setiap hari
dikeluh-kesahi oleh warga partai mereka, perkenankanlah saya memohon
kepada mereka –gajah-gajah itu–: berilah sedikit ruang dalam hati Anda
untuk warga dan umat Anda sendiri. Kasihanilah mereka!
Bertemulah Sampeyan, Gus Dur, dengan para Kiai! Bertemulah, para Kiai,
dengan Gus Dur! Lupakan sementara ‘akidah kebenaran’ Anda masing-masing
demi mereka! Saya yakin, hanya dengan melihat Anda bertemu saja
–apalagi sampai berangkulan seperti dahulu kala—warga dan umat Anda
sudah akan melakukan sujud syukur.

Apabila keyakinan Anda akan kebenaran sendiri sedemikian agung,
sehingga masing-masing terhadap yang lain tidak sudi berkompromi;
bagaimana jika masalahnya diserahkan saja kepada warga dan umat.
Masing-masing Anda tinggal menunjuk beberapa orang untuk menjadi
panitia bersama yang ditugasi mengumpulkan mereka dalam satu muktamar
istimewa. Muktamar yang satu, yang utuh, yang ikhlas, yang disengkuyung
semua pihak. Muktamar yang diharapkan dapat menghentikan tradisi
perkelahian terbuka yang sungguh mengganggu rasa muru-ah kaum santri
dan membuat risi yang lain.

Sebagai orang yang tidak berkepentingan langsung dengan PKB, saya
–dan insya Allah bangsa ini juga– akan bersyukur, bila partai ini
kembali utuh dan dapat kembali ikut dengan optimal mendarma-baktikan
diri untuk negeri yang masih banyak masalah ini. In uriidu illal
ishlaah mastatha’tu; wamaa taufiiqii illa biLlah. Saya hanya ingin
berbuat baik semampu saya. Taufiq dan hidayah hanya pada Allah.

===========

bener Gus…saya benci permusuhan di PKB….
saya simpatisan PKB karena Gusdur
tetapi lebih memilih PKS untuk memimpin bangsa….
dan lebih condong ke Golkar untuk memenej Ekonomi…..

Ontran-ontran yang ada di PKB PKB seharusnya disadar i bahwa santri dan orang kecil seperti saya ini yang simpatisan PKB sangat sedih.

Mbok yao…..
PKB dipimpin Gusmuh saja….

Life is Emphaty

Monday, December 19th, 2005

Ngga tahu kenapa hari ini gw ingat kedua orang tua gw…
yang membesarkan gw…
yang memberi gw makan…
yang memberi gw minum..

gw mengingat-ingat…
apa sih yang udah gw berikan ke mereka…
apa sih yang udah gw kasih ke mereka…

jawabannya…none…..

life is emphaty…

gw empati sama pengamen jalanan
gw empati sama pengemis dipinggir jalan…

tapi apa gw udah empati sama orang tua gw…???

jawabannya….none…..

so….

gw sedih ….
mengingat apa yang sudah gw berikan buat orang tua gw…

life is emphaty when you’ve done all of your life…

Bapakku sudah tua

Monday, December 19th, 2005

Bapak yang kusayangi,

bapak sudah tua…
hitam rambut bapak sudah berubah putih..
lengan bapak sudah dimakan kerut-kerut tua….

Bapak yang kucintai,

tak kuat hati ini menahan sedih
tak kuat hati ini menahan tangis
tak kuat hati ini menahan pilu…

istirahatlah pak..sejenak…
berliburlah dari duniawimu….
tengoklah cucu-cucumu….
kami menunggumu…

Bapak yang kukasihi,

hati ini lelah menunggu bapak pulang…
menengok diriku…
menengok ibu…
menengok saudara-saudaraku…
walau sejenak…

Bapak….

keringatmu adalah wewangian bagiku..
airmatamu adalah tangis bahagiaku
lelahmu adalah kekuatanku…
tertawamu adalah tangis bagiku…

Jika sampai waktunya….

bagiku…

antar aku ke rumah terakhir jasadku…

bagimu….

kudoakan untukmu sepanjang waktu
sampai hayat mengambil jasadku….

untuk kita sekeluarga disisi Tuhan YME

Amin….

Bu….Maafkan anakmu ini

Monday, December 19th, 2005

Ibuku yang baik …

maafkan anakmu ini..
yang tahu malu…
tak pernah menengokmu..
tak pernah menelponmu
tak pernah menyapamu…
walau 1 menit saja…

Ibuku yang melahirkan ku….

maafkan anakmu ini…
tak pernah tersenyum padamu
tak pernah mengecup tanganmu
tak pernah disampingmu saat sedihmu

Ibuku yang kusayangi….

maafkan anakmu ini…
tak pernah memberimu sesuatu
tak pernah mengucapkan ulang tahun
tak pernah berbicara halus padamu…

ibuku….
maafkan anakmu …..
yang sedang menunggu kematian ini…
relakan aku atas dosa-dosaku
agar tenang hatiku menjemput matiku ini….

Pemimpin/Jabatan/Kepemimpinan menurut GusMus dan Saya

Monday, December 19th, 2005

1. Jabatan dan kekuasaan menurut saya adalah AMANAT dan TANGGUNG JAWAB.

2. Kepemimpinan bagi saya adalah PELAYANAN dan KETELADANAN

3. Pemimpin yang baik adalah yang MEMIMPIN bukan DIPIMPIN

GusMus

Menurut saya

1. Jabatan adalah Sidratul Muntaha…jembatan keSurga
Jika lolos mendapatkan surga
2. Kepemimpinan yang baik adalah Keikhlasan…
Jika bisa memimpin maka ridho dan ikhlas yang kita dapat dari orang yang dipimpin
3. Pemimpin yang baik adalah Iblis…
Jika kita merasa menjadi pemimpin maka kita iblis….

Gus Mus Makan pakai apa Gus ????

Monday, December 12th, 2005


Gus Mus yang kusayangi…

telah lama aku menunggu kabarmu Gus….
menunggu akan karya nyatamu ditengah-tengah rakyat ini…
hingga hati ini bosan menunggu Gus….


Gus Mus yang baik hati…

pemimpin kita rakus Gus…
Saya bingung memikirkan sebenarnya mereka makan apa Gus…
Gus Mus tahu ngga Gus ???


Gus Mus yang sejuk….

hati ini teriris Gus…
karena seorang ibu ..tetangga saya menjadi pembantu dengan gaji 200 ribu Gus…
sementara anaknya 3 orang….dia makan pakai apa ya Gus


Gus Mus yang kucintai…

meski teriris Gus….
ibu itu tetap tegar Gus…
"saya ingin anak-anak saya sekolah" ….katanya..
meski untuk itu saya harus bekerja mencuci dan menyeterika..dari jam 1/2 7 pagi
hingga pukul 8 malam…di tiga tempat…


Gus Mus…

hati ini sedih Gus….

Ketika Indon ketiban sial

Monday, December 12th, 2005

Grrrrrrrrr…..seperti cicak didinding….dapet..ngga…dapet…ngga…dapet…ngga…
Udah berminggu-minggu saya berharap sesuatu yang ngga jelas juntrungannya….emang dasar indon….^&^%&^$%…bego…gampang dikibulin….begitu umpatan yang keluar dari dalam lubuk hati….

begini sejarahnya kenapa orang indon ini begitu gundah

email 1 :
—–Original Message—–
From:
P**** G**** [mailto:**********@yahoo.com]
Sent: 30 Oktober 2005 0:01
To: Jarod Dwi Harto
Subject: RE: Need Partner Company 3 Web Sites A Week Off-Shored Development To Indonesia

Jarod,

Good to meet you.  The first prototype web site where
I need a mock up is http://***paint.com .  This comes
from our sales source and it is a us painting company
where the site they have is terrible and our sales guy
is going to sell them the idea for the mock-up.  Can
you give me an example few pages of what you would do
to this bogpaint.com site; if it is good and can be
presented w/o many corrections we’ll pay $200 for the
prototype this will be a start and there will be more.
Please make it good and professional.  You’ll see the
one they have is not good.  Then we’ll get back to you
to if bigpaint.com sells and you’ll need to finish it
off and we’ll pay you for that too.  Does that sound reasonable?  Can we do this in the next few days?  I’m behind in getting back to them on doing these small sites.

Regards.

Perry

* * *

P**** ****
VP Engineering
******@****.har****.edu
http://harvard****.com
http://harvard****.org

Berbunga-bunga khan hati lo terima ini…otomatis gw kerjain dong selama seminggu….dan inilah jawabannya…

email 2 :
From: P**** G**** [mailto:**********@yahoo.com]
Sent: 04 Nopember 2005 12:05
To: JarOD
Cc: Jarod Dwi Harto
Subject: Re: mock up design and 3 alternative design

Excellent Jarod.  Let me see what the Sales guy Mark
has to say and get back to you.  Thank you for getting
this started.

Regards.

P****

— JarOD <jarod_hj_harto@yahoo.com> wrote:

> Hi
>
> If you have any further question regarding to the
> mock
> up design and alternative designs don’t hesitate to
> contact me from my mobile number.
>
>
> Regards,
>
> Jarod
>
> Mobile # : +62812-8159248
> Mobile # : +6221-70657395
>

Dan…setelah sebulan lebih…inilah hasilnya…&*^*($^*$(*$^

email 3 :

From: P**** G**** [mailto:**********@yahoo.com]
Sent: 02 Desember 2005 22:35
To: JarOD
Cc: Jarod Dwi Harto
Subject: Re: [Payment] Mock up Design and 3 Alternative Design

So looks like next Mon. Jarod is it.  I’m setting this
up as a biz so we have to get the money flowing from
the source for this to work.  Sounds like Mon. and we
have the go and will proceed.  Immediately when I get
the check I’ll get it to you.  The following is what
Mark sent to me yesterday.

Perry

"Sorry P*****,

I’m near the end of the campaign and ridiculously busy
right now. I
still
need to meet with the business owner. I’ll be ready to
devote the time
required to this after the start of the new campaign.
Let’s shoot for
12/1205 to finalize everything…

Sincerely,

M****"

— JarOD <jarod_hj_harto@yahoo.com> wrote:

> OK,
> thanks for your reply.
>
> Could you send me the money by this week ?
> So i can make sure that you are very serious working
> with me.
>
>
> Rgds,
>
> jarod

Makanya…hati-hati bisnis dengan bule kaga jelas…..

tapi dalem hati sih tetep berharap gw tetep dibayar…

Globalization –> Hijacked by Indonesians!!!!!

Sunday, December 11th, 2005

email ini sering saya terima….
tapi baru kali ini ngeh sengeh-ngehnya kalo bangsa Indonesia disebut..sebut…:)
mungkin ini cerminan kita diluar ngkali ya…hehehe…pake nanya
=====


Question: What is the perfect example of
Globalization?

Answer: Princess Diana’s death.

Question: How come?

Answer:

   An English princess
   with an Egyptian boyfriend
   crashes in a French tunnel,
   riding in a German car
   with a Dutch engine,
   driven by a Belgian who was drunk
   on Scottish whiskey,
   followed closely by Italian Paparazzi,
   on Japanese motorcycles,
   treated by an American doctor,
   using Brazilian medicines!
   And this is originally sent to you by an
Armenian,
   using Bill   Gates’ technology,

   and you’re probably reading this on one of the
IBM clones,

   that use Taiwanese-made chips,

   and a Korean-made monitor,

   assembled by Bangladeshi workers

   in a Singapore plant,

   transported by lorries driven by Indians,

   hijacked by Indonesians,

   unloaded by Sicilian longshoremen,

   trucked by Mexican illegals,

   and finally sold to you.

   That, my friend, is Globalization!