Ketika PKB disorot……
MEMBELA YANG BENAR
27 Desember 2005 00:24:43
Oleh: A. Mustofa Bisri
Petinggi-petinggi berbagai partai besar seperti Golkar dan PDIP bukan
saja sudah mulai melakukan langkah-langkah koordinasi, tapi bahkan
sudah saling unjuk gigi. Siap bertarung dan memenangi pemilu 2009.
Demikian pula PKS, PAN, Partai Demokrat, dan bahkan PPP sudah pula pada
berbenah menyongsong pemilu yang masih –atau tinggal— 4 tahun lagi.
Yang kelihatan paling pede –atau cuek saja– menghadapi pemilu
yang akan datang adalah petinggi-petinggi PKB. Mungkin ingin konsekwen
dengan motto partai mereka “Membela yang benar”, maka sampai entah
kapan mereka masih terus sibuk dan asyik berebut kebenaran di antara
mereka. Bahkan kali ini agak keterlaluan. Seolah-olah mereka –para
tokoh pemimpin partai berlambang mirip NU ini—terlepas dari masalah
negeri mereka dan sekaligus umat mereka sendiri. Kali ini tidak lagi
ikhtilaaful a-immah rahmah, tapi sudah niqmah.
Para tokoh pemimpin itu dengan semangat juang mirip mereka yang
membela Islam, melakukan manuver-manuver dan trik-trik terhadap sesama
mereka sendiri. Masing-masing seperti hendak pamer kepada khalayak
bangsa bagaimana semestinya membela prinsip kebenaran sendiri. Membela
kebenaran adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena
masing-masinglah yang benar, maka masing-masing mesti membela dirinya
hingga titik darah penghabisan. Bila warga bingung, itu adalah
disebabkan kurang memahami prinsip ini. Jika pun nantinya warga pada
berlari meninggalkan partai, itu adalah resiko perjuangan dalam rangka
“membela yang benar”.
Agaknya bagi masing-masing mereka –para tokoh pemimpin partai yang
kini berseberangan– urusan warga dan umat adalah masalah kecil. Warga
dan umat pusing sedikit apalah artinya dibanding perjuangan luhur dan
suci membela kebenaran sendiri. Nanti setelah “kemenangan” diraih,
warga dan umat yang taat-taat itu pun akan segera mengerti makna
‘membela yang benar” itu. Setelah pusing hilang, warga dan umat pun
akan segera kembali ke shaf di belakang mereka, ma’muuman liLlahi
ta’alaa.
Mereka –para tokoh pemimpin partai yang bertikai itu—lupa bahwa
kekuatan partai mereka ada pada mereka. Bukan pada setengah mereka!
Dengan setengah mereka, berarti mereka hanya punya setengah partai.
Melihat semangat –atau bahasa halusnya: ngotot—mereka membela kebenaran
diri masing-masing, rupanya masing-masing mereka memang sudah bertekad
akan meneruskan ‘perjuangan’ mereka apa pun resikonya. Agaknya bagi
masing-masing mereka, ini bukan sekedar masalah siasah, bukan sekedar
pilihan antara yang baik dan yang lebih baik; tapi sudah akidah,
pilihan antara yang haq dan yang bathil. Lebih baik setengah tapi
“benar” daripada satu tapi “setengah benar. Mungkin demikianlah pikir
mereka.
Saya jadi bertanya-tanya, bagaimanakah sebenarnya mereka –para tokoh
pemimpin partai yang umumnya kiai itu— memandang warga dan umat
pendukung partai mereka? Apakah seperti pandangan umum kebanyakan
pemimpin partai lain: sekedar obyek untuk ditarik kesana-kemari
bilamana perlu? Ataukah seperti pengakuan yang sering mereka lontarkan:
warga dan umat adalah pemilik partai sejati yang harus mereka ayomi dan
layani?
Dalam kondisi pertikaian yang sudah memuncak antara dua gajah,
pelanduk terancam mati di tengah. Nah, sebagai orang yang setiap hari
dikeluh-kesahi oleh warga partai mereka, perkenankanlah saya memohon
kepada mereka –gajah-gajah itu–: berilah sedikit ruang dalam hati Anda
untuk warga dan umat Anda sendiri. Kasihanilah mereka!
Bertemulah Sampeyan, Gus Dur, dengan para Kiai! Bertemulah, para Kiai,
dengan Gus Dur! Lupakan sementara ‘akidah kebenaran’ Anda masing-masing
demi mereka! Saya yakin, hanya dengan melihat Anda bertemu saja
–apalagi sampai berangkulan seperti dahulu kala—warga dan umat Anda
sudah akan melakukan sujud syukur.
Apabila keyakinan Anda akan kebenaran sendiri sedemikian agung,
sehingga masing-masing terhadap yang lain tidak sudi berkompromi;
bagaimana jika masalahnya diserahkan saja kepada warga dan umat.
Masing-masing Anda tinggal menunjuk beberapa orang untuk menjadi
panitia bersama yang ditugasi mengumpulkan mereka dalam satu muktamar
istimewa. Muktamar yang satu, yang utuh, yang ikhlas, yang disengkuyung
semua pihak. Muktamar yang diharapkan dapat menghentikan tradisi
perkelahian terbuka yang sungguh mengganggu rasa muru-ah kaum santri
dan membuat risi yang lain.
Sebagai orang yang tidak berkepentingan langsung dengan PKB, saya
–dan insya Allah bangsa ini juga– akan bersyukur, bila partai ini
kembali utuh dan dapat kembali ikut dengan optimal mendarma-baktikan
diri untuk negeri yang masih banyak masalah ini. In uriidu illal
ishlaah mastatha’tu; wamaa taufiiqii illa biLlah. Saya hanya ingin
berbuat baik semampu saya. Taufiq dan hidayah hanya pada Allah.
===========
bener Gus…saya benci permusuhan di PKB….
saya simpatisan PKB karena Gusdur
tetapi lebih memilih PKS untuk memimpin bangsa….
dan lebih condong ke Golkar untuk memenej Ekonomi…..
Ontran-ontran yang ada di PKB PKB seharusnya disadar i bahwa santri dan orang kecil seperti saya ini yang simpatisan PKB sangat sedih.
Mbok yao…..
PKB dipimpin Gusmuh saja….